Selasa, 21 Februari 2012

Secuil tentang jumlah siswa di sekolah

Luar biasa memang dunia pendidikan di Indonesia tahun 2012 ini (err.. sejak 5 tahun belakangan menurut si ibu). Banyak sekolah didirikan karena sepertinya sekolah jaman sekarang menjadi bisnis yang cukup menguntungkan, selain demand dari pasar tinggi, dan besarnya biaya pendidikan yang rela dikeluarkan orang tua seperti tidak berbatas.

Sekolah negeri juga laju pertambahannya tidak sebanding dengan angkatan sekolah, kalau angkatan kerja sih lumayan bisa jadi wiraswasta jaman sekarang.. Sekelas isi 40 anak juga dirasa tidak manusiawi lagi oleh kelas menengah di kota besar. Sebagai ilustrasi, kapasitas maksimal sekolah negeri di jaman saya, untuk SD maksimum 40 anak, SMP 44 siswa, SMA 48 siswa. Sewaktu SMP dan SMA si ibu bersekolah di sekolah negeri, dan diwaktu SMA sedang ada gelombang teman-teman kepingin masuk kelas IPS karena lebih gaya dan santai dibandingkan kelas IPA yang stress dan berat. Batasannya 48 siswa, akhirnya 1-2 orang dirayu untuk mau ke kelas IPA. Nah bisa terbayang kan seperti apa rasanya 48 siswa berada dalam 1 kelas?

Sebenarnya si ibu tidak tau juga apakah ada penelitian dalam 1 kelas yang ideal berisi berapa siswa. Dari pengalaman si ibu yang singkat, mengajar 24 siswa dalam 1 kelas usahanya luar biasa! Kalau boleh memilih ibu maunya antara 10-20 siswa. Di bawah 10 orang sepi juga dan agak sulit untuk menjadikannya interaktif, apalagi bila mau dibuat kelompok-kelompok kecil. Ini untuk setingkat SMP ke atas ya..


Menjadi pengajar, adalah harus untuk mengingat nama dari tiap-tiap siswa yang ada di kelasnya. Tapi kan jumlah mereka ratusan?? Dalam 1 periode, paling hanya 2-10 kelas yang kita ajar. Setelahnya kita lupa, itu urusan belakangan. Namun saat kita menghadapi mereka, hargailah mereka dengan memanggil namanya. Nama mereka sudah susah payah dipilihkan oleh kedua orang tuanya sebagai doa. Siswa itu bukan hanya sekedar rentetan huruf dan statistik, tapi tiap-tiap manusia yang istimewa dan senang bila diberi perhatian. Itulah mengapa si ibu muram durja bila kebagian kelas yang isinya di atas 20 orang. Mereka manusia loh, bukan buku-buku catatan semata.

Akibat dari ini semua, banyak bermunculan sekolah-sekolah swasta dan mayoritas biayanya lebih mahal dari sekolah negeri. Secara matematis masuk akal, karena dalam 1 kelas isinya lebih sedikit, pastinya pendapatan berkurang. Bila mau menambah jumlah siswa,menambah jumlah kelas, maka harus diimbangi dengan jumlah guru yang berarti beban operasional sekolah. Masalah kualitas? Rata-rata masih tanda tanya karena sekolah-sekolah ini masih tergolong baru dan masih mencari bentuk serta jati dirinya. Sang pemilik masih sibuk hitung-hitungan ROI (bila yang berorientasi bisnis) ataupun dilema jamak semua institusi pendidikan: mencari tenaga pengajar yang kompeten, setia dan ikut merasakan memiliki sekolah.

Si ibu senang sekali kalau si ayah sudah bicara mimpinya membuat sekolah atau lembaga pendidikan. Masih jauuuuhh sekali, tapi mimpi harus kan :D Kita sama-sama pernah di ajar, dan sama-sama pernah mengajar. Juga sama-sama pernah melihat bagaimana secercah ilmu yang bermanfaat mampu mengubah hidup seseorang.

Minimal karena kita hidup di tahun 2012 ini, satu hal yang bisa kita syukuri adalah luasnya pilihan yang sekarang kita miliki. Mau sekolah negeri, swasta, berbasis agama, berbahasa inggris, dwilingual, trilingual, sekolah alam bahkan mau homeschooling pun sah-sah saja jaman sekarang. Biaya yang harus dikeluarkan? Itulah pentingnya usaha dan doa, bukan?!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar