Selasa, 10 Juli 2012

Motor dan susahnya cari jodoh

Tulisan yang ini merupakan obrolan iseng si ibu dengan si ayah. Jadi ceritanya kami menganalisa kenapa ya perempuan jaman sekarang kok susah sekali mencari pacar, pasangan, dan ujung-ujungnya pendamping hidup?

Analisa si ayah, ini gara-gara DP membeli motor makin murah! Loh?? Iya, soalnya orang-orang jaman sekarang jadi pada naik motor semua kan? Semakin sedikit aja pengguna transportasi umum seperti bus dan angkot. Alhasil kesempatan untuk bertemu jodoh pun semakin kecil. Apa iya ya??

Lebih jauh si ayah bilang, pertama-tama cowok-cowoknya yang pada naik motor. Jadi angkot-angkot isinya lebih banyak cewek-cewek deh. Si cewek jadi tidak bertemu dengan siapapun cowok yang mungkin naik angkot. Sebenarnya situasi ini masih lumayan, karena setidaknya kalau di sekolah atau di kerjaan ada yang ditaksir oleh si cowok, bisa diajak pulang naik motor. Lumayan si cewek dapat tumpangan gratis sementara si cowok bisa melancarkan langkah-langkah PDKT.

Tapi kemudian untuk alasan kepraktisan, gengsi, dan mungkin juga keamanan (karena kok ya belakangan malah santer berita pemerkosaan di angkot? Oh no!!), mulailah cewek-cewek juga mengendarai motor kemana-mana. Implikasinya? Wah si cowok jadi tidak bisa mengajak pulang bareng lagi deh... Lebih parah kasusnya kalau si cowok tidak punya atau bahkan tidak bisa mengendarai motor, tengsin dan gengsi pastinya. Boro-boro meningkatkan frekuensi kemungkinan pertemuan di transportasi publik ya.

Sambil mengiyakan si ayah, suatu hari si ibu benar-benar memperhatikan para penumpang dalam suatu angkot. Wah ternyata statistik ngasal yang dibuat si ayah benar! Angkot yang kapasitasnya sekitar 12 orang, 10 diantaranya adalah wanita. 2 pria ini kemungkinan transportasi pribadinya sedang rusak, tidak punya, atau mungkin punya trauma tersendiri. Pria-pria yang naik angkot itu pun usianya sudah di atas pasaran (emangnya usia pasaran berapa ya?) dan jelas tidak eligible untuk digebet.

Lalu si ibu teringat cerita salah seorang teman kuliah yang sering tidak sengaja ketemu di angkot yang sama dengan teman 1 kampus. Walau beda departemen, lama-lama mereka jadi ngobrol dan walaupun si cowok itu pemalu setengah mati akhirnya mereka benar-benar jadian! Si ibu ingat juga jaman kuliah dulu 1 angkot dengan mahasiswa kampus tetangga yang gaya-gayanya mau mengajak kenalan (tapi dulu si ibu juteknya setengah mati dan paling malas urusan sama orang tidak dikenal jadi sama sekali tidak ditanggapi, hehehheee kasian juga ya).

Trus gimana dong, Yah? Wah gampang, kalo belum punya pacar kemana-mana tidak usah naik motor atau mobil pribadi, kata si ayah. Rela aja naik angkot, kopaja atau busway. Suatu saat kan ada yang kasihan dan ngajak bareng, kalo naksir sudah pasti langsung bisa bareng. Kebayang nggak kalau kemana-mana sudah nyetir Jazz sendiri, mau ngajak bareng, si cowok yang cuma modal P20 atau Vario pastinya tengsin dan mundur teratur dong.

Hehehe jamannya berubah ya... Dulu sih si ibu memang kemana-mana diantar jemput sampai SMA karena memang tidak boleh pacaran atau jalan-jalan dengan teman. Sewaktu kuliah baru merasakan naik angkot, bus, busway, kereta, bemo, dan sebagainya. Dan memang ketemu dengan si ayah baru sewaktu kuliah, pacaran naik motor (ahaaaayyy....).

Senin, 23 April 2012

Keamanan bagi si kecil

Keamanan yang akan si ibu bahas di sini terutama saat si kecil berada di tengah keramaian atau tersasar.

Anak si ibu yang sekarang usianya 3,5 tahun baru lancar bicara sewaktu usianya 18-20 bulan, agak telat sih karena beberapa anak lain sudah mulai dari 11-15 bulan. Sedikit saran untuk ibu-ibu yang menunggu si kecil lancar bicara, selain bersabar tentunya, isilah terus pengetahuannya dengan berbagai kosa kata melalui lagu dan cerita. Saat tiba saatnya si kecil bicara, dengan bahagianya ia akan menggunakan kata-kata yang sudah kita sediakan (sering perdengarkan) untuk mengungkapkan maksud hatinya.

Nah, setelah si kecil lancar bicara, tentunya ada beberapa hal penting yang perlu diketahui dan diingatnya.

1. Namanya sendiri
Cukup nama panggilannya saja, yang semoga cukup sederhana namun unik sehingga saat ia hilang di keramaian tidak membingungkan untuk dicari.
Contoh : Menyahut saat ditanya, "Namamu siapa?" "Unyil" *tidak perlu sampai Raden Mas Mahendra Putra Gunungan Selaras misalkan*

2. Alamat rumahnya
Tidak perlu terlalu panjang, tapi cukup untuk mengidentifikasi dirinya.
Contoh: Menyahut saat ditanya, "Rumahmu dimana?" "Pondok kacang"

3. Nama kedua orang tuanya
Saat si kecil sudah sekitar 2,5 tahun mungkin sudah lancar mengucapkan nama panjangnya maupun nama kedua orang tuanya. Tapi minimal dari sedini mungkin dikenalkan bahwa ia adalah anak "Pak Raden" atau anak "Bu Bariah"

Petunjuk saat berada di keramaian.

Berikut adalah kata-kata si ibu yang selalu diulang-ulang saat membawa si kecil ke tempat ramai.
Sejak usianya 2 tahun, si ibu selalu bilang bahwa kita akan ke tempat yang ramai (pusat perbelanjaan, PRJ, pameran, dsb) jadi tidak boleh jauh dari orang tua dan kalau sampai hilang jangan lupa 3 hal:

1. Jangan menangis
Karena anak yang menangis tidak akan bisa ditanyai dan malah membingungkan.

2. Cari pak Satpam atau Polisi
Atau minta bantuan orang besar untuk mengantarkan ke satpam.

3. Lapor "Pak, saya hilang. Tolong cari ibu saya Bu Bariah, nama saya si Unyil"
Bagian yang ini redaksinya bisa dibuat sesuai dengan kemampuan si kecil yang pastinya semakin hari semakin pintar.

Cukup sederhana memang, tapi harus terus diulang-ulang dan diucapkan dengan nada yang serius. Jadi si kecil tau pentingnya mengetahui identitas dirinya dan mampu mencari jalan keluar bila dirinya hilang atau tersesat.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah kesadaran untuk boleh bersikap ramah, namun bukan berarti mau terima barang gratisan dari orang tidak dikenal atau mengikuti orang tidak dikenal.

Selasa, 06 Maret 2012

Di bawah sinar matahari

Catatan kecil si ibu supaya tidak lupa lagi.

Kalau berkegiatan di bawah matahari yang sangat terik tak berhingga jam 10-3 tidak boleh lupa : Jangan gunakan baju garis-garis!

Apalagi garis-garis hitam putih atau warna gelap terang, karena hasilnya kulit pun akan belang :( bentuknya bukan lagi garis "bikini" tapi benar-benar seperti Zebra >_<

Selasa, 21 Februari 2012

Secuil tentang jumlah siswa di sekolah

Luar biasa memang dunia pendidikan di Indonesia tahun 2012 ini (err.. sejak 5 tahun belakangan menurut si ibu). Banyak sekolah didirikan karena sepertinya sekolah jaman sekarang menjadi bisnis yang cukup menguntungkan, selain demand dari pasar tinggi, dan besarnya biaya pendidikan yang rela dikeluarkan orang tua seperti tidak berbatas.

Sekolah negeri juga laju pertambahannya tidak sebanding dengan angkatan sekolah, kalau angkatan kerja sih lumayan bisa jadi wiraswasta jaman sekarang.. Sekelas isi 40 anak juga dirasa tidak manusiawi lagi oleh kelas menengah di kota besar. Sebagai ilustrasi, kapasitas maksimal sekolah negeri di jaman saya, untuk SD maksimum 40 anak, SMP 44 siswa, SMA 48 siswa. Sewaktu SMP dan SMA si ibu bersekolah di sekolah negeri, dan diwaktu SMA sedang ada gelombang teman-teman kepingin masuk kelas IPS karena lebih gaya dan santai dibandingkan kelas IPA yang stress dan berat. Batasannya 48 siswa, akhirnya 1-2 orang dirayu untuk mau ke kelas IPA. Nah bisa terbayang kan seperti apa rasanya 48 siswa berada dalam 1 kelas?

Sebenarnya si ibu tidak tau juga apakah ada penelitian dalam 1 kelas yang ideal berisi berapa siswa. Dari pengalaman si ibu yang singkat, mengajar 24 siswa dalam 1 kelas usahanya luar biasa! Kalau boleh memilih ibu maunya antara 10-20 siswa. Di bawah 10 orang sepi juga dan agak sulit untuk menjadikannya interaktif, apalagi bila mau dibuat kelompok-kelompok kecil. Ini untuk setingkat SMP ke atas ya..


Menjadi pengajar, adalah harus untuk mengingat nama dari tiap-tiap siswa yang ada di kelasnya. Tapi kan jumlah mereka ratusan?? Dalam 1 periode, paling hanya 2-10 kelas yang kita ajar. Setelahnya kita lupa, itu urusan belakangan. Namun saat kita menghadapi mereka, hargailah mereka dengan memanggil namanya. Nama mereka sudah susah payah dipilihkan oleh kedua orang tuanya sebagai doa. Siswa itu bukan hanya sekedar rentetan huruf dan statistik, tapi tiap-tiap manusia yang istimewa dan senang bila diberi perhatian. Itulah mengapa si ibu muram durja bila kebagian kelas yang isinya di atas 20 orang. Mereka manusia loh, bukan buku-buku catatan semata.

Akibat dari ini semua, banyak bermunculan sekolah-sekolah swasta dan mayoritas biayanya lebih mahal dari sekolah negeri. Secara matematis masuk akal, karena dalam 1 kelas isinya lebih sedikit, pastinya pendapatan berkurang. Bila mau menambah jumlah siswa,menambah jumlah kelas, maka harus diimbangi dengan jumlah guru yang berarti beban operasional sekolah. Masalah kualitas? Rata-rata masih tanda tanya karena sekolah-sekolah ini masih tergolong baru dan masih mencari bentuk serta jati dirinya. Sang pemilik masih sibuk hitung-hitungan ROI (bila yang berorientasi bisnis) ataupun dilema jamak semua institusi pendidikan: mencari tenaga pengajar yang kompeten, setia dan ikut merasakan memiliki sekolah.

Si ibu senang sekali kalau si ayah sudah bicara mimpinya membuat sekolah atau lembaga pendidikan. Masih jauuuuhh sekali, tapi mimpi harus kan :D Kita sama-sama pernah di ajar, dan sama-sama pernah mengajar. Juga sama-sama pernah melihat bagaimana secercah ilmu yang bermanfaat mampu mengubah hidup seseorang.

Minimal karena kita hidup di tahun 2012 ini, satu hal yang bisa kita syukuri adalah luasnya pilihan yang sekarang kita miliki. Mau sekolah negeri, swasta, berbasis agama, berbahasa inggris, dwilingual, trilingual, sekolah alam bahkan mau homeschooling pun sah-sah saja jaman sekarang. Biaya yang harus dikeluarkan? Itulah pentingnya usaha dan doa, bukan?!

Senin, 20 Februari 2012

Belanja Online

Catatan kecil dari pengalaman belanja online..
Belanja online memang mengasyikkan tapi harus hati-hati dan bolak-balik cek loh sebelum akhirnya memutuskan bertransaksi..
Ibu yang satu ini punya beberapa tips sewaktu belanja online (yang biasa dilakukan lewat facebook atau multiply)

1. Kenal dengan penjualnya
Kalau ini sih sudah pasti ya, kalau kenal secara nyata (bukan cuma di internet) pastinya merasa aman karena kalau ada apa-apa bisa ditelepon, diemail, didatangi, dst dst. Minimal bila si penjual kenal dengan salah satu teman dekat kita, ya bisa tanya-tanya dan minta pendapat. Lagipula belanja dengan kenalan banyak manfaatnya, secara langsung membantu yang punya dagangan, mendapatkan barang yang jaminan mutu, dan menjalin silaturahmi *uhuk.. Hehehe bukan sok mulia sih tapi kira-kira kan begitu ^_^

2. Survey harga
Biasanya sih si ibu jarang main-main ke Mangga dua atau ITC (ga sempet, huhuhuhuuuu) tapi sekali-sekali ya ada lah, dari bazaar atau minimal mal-mal dekat rumah, atau cerita teman-teman tentang petualangan belanja mereka. Dari situ kira-kira jadi punya patokan yang namanya panci bentuk doraemon kira-kira harganya berapa ya? Cara lain yang paling mudah pastinya dengan search di google :D cerdas banget dehh! Hari gini ya, semua info sudah tersedia di google, tinggal dicari yang termurah berapa, keseringan ada di kaskus (tangan pertama kali ya?), atau tokobagus, dan lain tempat sebagainya. Pokoknya intinya jangan sampai sudah deal membeli terus menyesal karena ternyata di toko sebelah lebih murah! Kasus khusus kalau barangnya hand made ya, nah kalau yang ini susah juga karena tidak bisa dibandingkan.

3. Transparansi harga
Ini juga penting, harga yang tercantum itu sudah nett atau belum? Apa ada tambahan pajak? Jasa bungkus? Jasa antar? Biaya transfer (atm bersama, prima, dll)? Biasanya ongkir (ongkos kirim) akan dikenakan di luar harga yang tercantum dan tergantung berapa kilo. Tapi tenang saja, namanya Indonesia kita tetap boleh menawar dong! Sebelumnya mohon maaf, takut penjualnya tersinggung, tapi namanya mencoba kan tidak ada salahnya.. Siapa tau lagi ada promo discount 70% *ngarep atau minimal free ongkir untuk barang yang kita mau, atau karena kita belanja 2-3 items jadi ya dibulatkan saja jumlahnya buat penglaris :D. HATI-HATI kalau barang yang ditawarkan masih baru tapi sangat jauh murahnya dari harga pasaran! If it's too good to be true, then most probably it is. Ngga mau kan udah transfer 2 juta buat hape anyar tau-tau dikirimi batu bata?!

4. Pait-pait
Bila nilai transaksinya besar (menurut saya sih di atas 200rb, tapi batas orang beda-beda) maka sebaiknya di awal kita tanyakan dulu kalau-kalau bagaimana? Kalau barangnya ternyata kita tidak suka? Ya salah sendiri kenapa dipesan! Kalau ukurannya tidak cocok? Makanya sebelum bayar minta penjualnya untuk mengukur dulu (biasanya baju/sepatu/sprei). Kalau barangnya cacat? Naahh yang model-model begini nih harus jelas dulu boleh ditukar kah? Kalau barangnya berbeda dengan di foto? Sering terjadi loh, terutama untuk sepatu yang custom made.. Jadi sebaiknya dari awal ditanya dulu pait-paitnya bagaimana supaya sama-sama enak :D

5. Rekomendasi
Terakhir, karena cuma kepikiran segini, bila anda puas dengan barang maupun pelayanan seorang penjual, maka tunjukkanlah. Bisa dengan testimonial (ditulis di blog anda atau cukup di wall fb si penjual) maupun cerita mulut-ke mulut dengan teman-teman. Pastinya kalau puas kita mau dia tetap berjualan dong, supaya kalau ada rejeki lagi bisa belanja lagi! Hidup!

Mukadimah

Mukadimah, kalau tidak salah sih artinya pembukaan, ceritanya mau mulai iseng-iseng menulis ini.. Sayang juga sebenarnya perjalanan luar biasa si kecil yang biasa ditulis ibu-ibu lainnya tidak saya lakukan. Soalnya saya jauh dari narsisme dan pameranisme dan publikasisme. Tapi dekat sekali dengan cerita-cerita dan berbagi bersama teman :D Hehe jadi sebenarnya beda media saja, sodara-sodara.. Baiklah here we go, bismillah!